Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Kesehatan

Dokter Unair Kembangkan Fototerapi Portabel Bayi Kuning

8
×

Dokter Unair Kembangkan Fototerapi Portabel Bayi Kuning

Share this article

Dua inovasi dari Surabaya dirancang menjawab keterbatasan akses terapi hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir.

Example 468x60

MetroSurabaya mencatat inovasi kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga mendapat perhatian setelah dua perangkat untuk penanganan bayi kuning diperkenalkan sebagai solusi bagi wilayah dengan fasilitas kesehatan terbatas. AirBiliNest dan AirBiliSun dikembangkan untuk membantu menghadapi hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir, terutama ketika akses menuju fasilitas fototerapi konvensional tidak mudah diperoleh.

Pengembang inovasi tersebut adalah dr. Mahendra Tri Arif Sampurna, Sp.A(K), Ph.D., dokter dari FK Unair yang berkecimpung dalam bidang kesehatan anak dan neonatologi.

Example 300x600

AirBiliNest dirancang sebagai sistem fototerapi portabel yang memberikan cahaya terapeutik kepada bayi.

AirBiliSun menggunakan pendekatan berbeda dengan memanfaatkan cahaya matahari yang sudah melalui sistem penyaringan sehingga bagian spektrum yang digunakan dapat disesuaikan untuk terapi.

Keduanya tidak berarti bayi yang mengalami kuning dapat ditangani sendiri tanpa pemeriksaan medis. Kadar bilirubin, usia bayi, usia kehamilan ketika lahir, dan kondisi klinis tetap menentukan apakah seorang bayi membutuhkan fototerapi atau penanganan lain.

Mengapa Bayi Kuning Membutuhkan Perhatian?

Warna kuning pada kulit bayi terjadi ketika kadar bilirubin meningkat.

Kondisi ini cukup sering ditemukan pada bayi baru lahir karena tubuh mereka masih beradaptasi dalam memproses bilirubin.

Sebagian kasus dapat bersifat ringan. Namun, kadar bilirubin yang terlalu tinggi membutuhkan penilaian medis karena dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat.

Fototerapi telah lama menjadi salah satu metode utama untuk membantu menurunkan bilirubin.

Cahaya dengan spektrum tertentu membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan tubuh bayi.

Kajian mengenai fototerapi neonatal menjelaskan bahwa perawatan menggunakan cahaya telah digunakan selama puluhan tahun dan tetap menjadi bagian penting dalam penanganan hiperbilirubinemia.

Masalah muncul ketika peralatan tersebut hanya tersedia di rumah sakit atau fasilitas besar.

Wilayah terpencil menghadapi jarak, keterbatasan listrik, biaya transportasi, serta jumlah tenaga kesehatan yang berbeda dibanding kota besar.

AirBiliNest Dibuat Lebih Portabel

AirBiliNest dikembangkan untuk membuat fototerapi lebih fleksibel.

Perangkat tersebut menggunakan sistem cahaya biru terapeutik dengan desain yang lebih mudah dipindahkan daripada peralatan fototerapi konvensional berukuran besar.

Pengembang berharap perangkat dapat membantu fasilitas kesehatan yang tidak mempunyai peralatan neonatal lengkap.

Menurut informasi produk AirBiliNest, cahaya yang digunakan diarahkan pada rentang spektrum yang efektif terhadap bilirubin.

Durasi penggunaan tidak bisa disamaratakan untuk setiap bayi.

Tenaga medis tetap harus melihat kadar bilirubin dan faktor risiko sebelum menentukan kebutuhan terapi.

Hal ini penting karena kondisi bayi kuning tidak hanya dinilai dari seberapa kuning warna kulit terlihat oleh mata.

Pemeriksaan klinis dan pengukuran bilirubin memberikan gambaran yang lebih akurat.

AirBiliSun Memanfaatkan Cahaya Matahari dengan Filter

AirBiliSun membawa pendekatan berbeda.

Perangkat ini dikembangkan agar energi dari cahaya matahari bisa dimanfaatkan tanpa sekadar menjemur bayi secara langsung.

Sistem menggunakan filter optik untuk memilih bagian cahaya yang sesuai bagi terapi.

Rentang cahaya biru yang disebut pengembang berada sekitar 460–490 nanometer.

Konsep tersebut relevan untuk wilayah dengan pasokan listrik terbatas.

Namun, perbedaannya dengan kebiasaan menjemur bayi perlu dipahami dengan jelas.

AirBiliSun merupakan perangkat yang dirancang untuk mengontrol cahaya yang sampai kepada bayi. Menaruh bayi di bawah matahari tanpa perlindungan dan tanpa panduan tenaga kesehatan bukanlah prosedur yang sama.

Paparan panas berlebihan justru dapat membawa risiko lain bagi bayi baru lahir.

Kesenjangan Akses Menjadi Alasan Pengembangan

dr. Mahendra menyebut masih terdapat ribuan bayi di daerah terpencil yang menghadapi keterbatasan akses terhadap lampu fototerapi.

Angka sekitar 6.800 bayi disebut sebagai perkiraan pengembang mengenai kelompok yang mengalami kesulitan memperoleh akses cepat terhadap fasilitas tersebut.

Angka itu sebaiknya dibaca sebagai estimasi yang disampaikan tim inovator, bukan jumlah kasus nasional yang sudah diverifikasi melalui satu basis data epidemiologi.

Nilai utama inovasinya berada pada upaya memperkecil jarak antara bayi yang membutuhkan terapi dan fasilitas yang mampu menyediakan layanan.

Indonesia memiliki wilayah geografis yang luas dengan ribuan pulau.

Merujuk pasien dari daerah terpencil menuju rumah sakit besar dapat membutuhkan perjalanan panjang dan biaya tinggi.

Perangkat yang lebih kecil berpotensi ditempatkan lebih dekat dengan fasilitas pelayanan dasar apabila kelayakan, regulasi, distribusi, serta pelatihan pengguna terpenuhi.

Inovasi Masuk Tahap Penguatan Kekayaan Intelektual

Pengembangan AirBiliNest dan AirBiliSun juga mendapat momentum melalui kerja sama Universitas Airlangga dengan Kementerian Hukum serta Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.

Pada kegiatan di Airlangga Convention Center, inovasi tersebut masuk dalam agenda lisensi paten dan komersialisasi hasil penelitian.

Tahap ini penting karena riset kampus tidak otomatis sampai ke pasien setelah prototipe selesai.

Produksi membutuhkan standar mutu, perizinan alat kesehatan, kemampuan manufaktur, pendanaan, jaringan distribusi, serta dukungan tenaga medis yang menggunakan perangkat.

Keberhasilan teknologi kesehatan akhirnya bukan hanya dinilai dari ide yang menarik.

Perangkat harus menghasilkan manfaat klinis secara konsisten ketika digunakan pada kondisi nyata.

Tenaga Kesehatan Tetap Memegang Peran Utama

Portabilitas dapat memperluas akses, tetapi keputusan medis tetap berada pada tenaga kesehatan.

Bayi kuning bisa memiliki penyebab serta tingkat keparahan yang berbeda.

Sebagian memerlukan pemantauan, sementara kondisi tertentu membutuhkan fototerapi lebih intensif atau penanganan lanjutan.

Orang tua juga tidak sebaiknya menunggu warna kuning semakin jelas sebelum mencari bantuan apabila bayi terlihat lemah, sulit menyusu, sangat mengantuk, atau menunjukkan perubahan kondisi yang mengkhawatirkan.

Teknologi seperti AirBiliNest dapat menjadi alat bantu, bukan pengganti pemeriksaan.

Pemantauan bilirubin dan evaluasi klinis tetap menentukan langkah yang paling tepat.

Tantangan Berikutnya adalah Distribusi

Inovasi dari Surabaya ini sekarang menghadapi pekerjaan yang tidak kalah besar dibanding proses pengembangannya.

Perangkat perlu menjangkau fasilitas yang benar-benar membutuhkan.

Tenaga kesehatan juga membutuhkan pelatihan mengenai pemakaian, pemantauan, keamanan, serta batas penggunaan.

Sistem pemeliharaan dan ketersediaan komponen harus diperhitungkan apabila alat digunakan jauh dari pusat produksi.

Bagi daerah tanpa pasokan listrik stabil, pendekatan berbasis cahaya matahari terfilter memberi alternatif yang menarik. Namun implementasinya tetap harus mengikuti standar medis dan kondisi lingkungan.

AirBiliNest dan AirBiliSun menunjukkan bagaimana masalah geografis dapat mendorong lahirnya desain kesehatan yang berbeda.

Tantangan selanjutnya adalah memastikan inovasi tersebut tidak berhenti sebagai karya penelitian, melainkan mampu digunakan secara aman, terukur, dan mudah dijangkau oleh bayi yang membutuhkan terapi.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *