MetroSurabaya mencatat Indonesia mulai membahas masa depan jaringan 2G setelah Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia atau ATSI menyatakan sedang mengkaji kemungkinan penghentian teknologi tersebut. Pembahasan masih berada pada tahap awal bersama pemerintah dan belum menghasilkan tanggal penutupan. Salah satu pertimbangan terbesar adalah jutaan pelanggan yang masih menggunakan 2G terutama untuk telepon dan SMS.
ATSI memperkirakan pengguna 2G masih mencapai sekitar 8–10 persen dari total pelanggan seluler.
Jika memakai basis sekitar 297 juta registrasi kartu SIM berbasis biometrik hingga Agustus 2026, jumlahnya dapat mendekati 29 juta pengguna.
Mengapa Operator Ingin Mengakhiri 2G?
Jaringan 2G mulai hadir beberapa dekade lalu ketika kebutuhan utama pengguna masih berupa telepon suara dan SMS.
Teknologi tersebut menggunakan spektrum yang sekarang semakin bernilai untuk jaringan data.
ATSI melihat penghentian 2G dapat membuka peluang mengalihkan pita frekuensi, termasuk spektrum 900 MHz, untuk layanan yang lebih modern.
Dalam penjelasan ATSI, spektrum tersebut dapat direalokasikan untuk memperkuat 4G dan 5G yang membawa kapasitas data lebih besar.
Proses pengalihan spektrum ini biasa disebut refarming.
Spektrum Tidak Bisa Ditambah Sesuka Hati
Frekuensi radio merupakan sumber daya terbatas.
Operator tidak dapat menciptakan spektrum baru ketika kebutuhan data meningkat.
Karena itu, teknologi lama yang memakai pita tertentu perlu dievaluasi apabila trafiknya terus turun.
Mengoperasikan 2G, 4G, dan 5G sekaligus juga membuat jaringan semakin kompleks.
Setiap teknologi membutuhkan perangkat, pemeliharaan, energi, dan pengelolaan.
Jika sebagian besar pelanggan sudah memakai 4G atau 5G, mempertahankan jaringan lama untuk kelompok kecil bisa menjadi semakin tidak efisien.
Indonesia Tidak Bisa Mematikan 2G Mendadak
Masalah terbesar terletak pada pengguna yang masih bergantung pada jaringan lama.
Tidak semua orang menggunakan smartphone.
Sebagian masyarakat masih memakai feature phone yang hanya mendukung 2G.
Perangkat tersebut sering dipilih karena murah, baterainya tahan lama, dan cukup untuk telepon serta SMS.
Jika jaringan dihentikan tanpa program migrasi, pengguna dapat kehilangan layanan komunikasi.
Kelompok lansia dan masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas menjadi pihak yang perlu mendapat perhatian khusus.
Mesin Juga Bisa Mengandalkan 2G
Pengguna 2G tidak selalu manusia yang membawa telepon lama.
Berbagai perangkat machine-to-machine masih dapat menggunakan jaringan generasi lama.
Mesin pembayaran, sistem alarm, pelacak kendaraan, meter pintar, atau perangkat industri tertentu mungkin memakai modem 2G karena biaya rendah dan kebutuhan datanya kecil.
Jumlah perangkat seperti ini tidak selalu terlihat dalam statistik pengguna biasa.
Sebelum shutdown, operator dan perusahaan harus mengetahui perangkat mana yang perlu diganti.
Migrasi massal membutuhkan biaya serta waktu.
Dunia Memang Mulai Meninggalkan Jaringan Lama
Indonesia bukan negara pertama yang mempertimbangkan langkah tersebut.
Data GSA global mencatat 139 operator di 70 pasar sudah menyelesaikan atau merencanakan penghentian jaringan 2G.
Sebanyak 56 operator telah menyelesaikan proses itu hingga pertengahan 2026.
Alasannya hampir sama.
Operator ingin memakai spektrum untuk LTE dan 5G, mengurangi konsumsi energi, serta menyederhanakan infrastruktur.
Namun, beberapa operator global juga harus menunda jadwal karena proses migrasi pelanggan lebih sulit daripada perkiraan.
VoLTE Menjadi Bagian Penting
Pengguna mungkin mengira 4G hanya digunakan untuk internet.
Pada jaringan modern, telepon suara dapat berjalan melalui Voice over LTE atau VoLTE.
Teknologi ini memungkinkan panggilan suara menggunakan jaringan 4G.
Namun, perangkat dan kartu pelanggan harus mendukung fungsi tersebut.
Operator juga perlu memastikan cakupan cukup luas.
Jika pelanggan berpindah dari 2G tetapi wilayahnya mempunyai kualitas 4G yang lemah, pengalaman komunikasi justru bisa memburuk.
Karena itu, penutupan jaringan lama harus mengikuti kesiapan jaringan pengganti.
Insentif Perangkat Bisa Dibutuhkan
ATSI juga membahas kemungkinan adanya program insentif dalam proses transisi.
Pendekatan seperti ini masuk akal karena tidak semua pelanggan mampu membeli perangkat baru hanya karena operator mengganti teknologi.
Program tukar perangkat, subsidi, cicilan murah, atau paket khusus dapat membantu.
Modelnya belum diputuskan.
Namun, perlindungan pengguna menjadi kunci jika pemerintah dan industri ingin mempercepat perubahan.
Migrasi akan jauh lebih mudah diterima jika pelanggan melihat manfaat dan tidak merasa dipaksa mengeluarkan biaya besar.
Daerah Terpencil Harus Jadi Pertimbangan
Kecepatan adopsi jaringan tidak sama di seluruh Indonesia.
Kota besar mempunyai cakupan 4G dan 5G lebih luas.
Wilayah pedesaan atau terpencil mungkin menghadapi kondisi berbeda.
Operator harus memastikan jaringan pengganti tersedia sebelum 2G dihentikan.
Prinsipnya sederhana: modernisasi tidak boleh mengurangi kemampuan masyarakat untuk berkomunikasi.
Peta cakupan dan jumlah pengguna karena itu akan menentukan apakah shutdown perlu dilakukan secara nasional sekaligus atau bertahap.
Belum Ada Tanggal Penutupan
Hal terpenting bagi masyarakat saat ini adalah tidak panik.
ATSI belum mengumumkan tanggal penghentian jaringan 2G.
Pembahasan masih tahap awal.
Pelanggan yang memakai feature phone juga belum perlu langsung membeli perangkat baru hanya karena berita kajian muncul.
Namun, arah industri mulai terlihat.
Spektrum semakin dibutuhkan untuk jaringan data modern dan banyak negara sudah meninggalkan teknologi lama.
Jika Indonesia akhirnya mengambil langkah yang sama, keberhasilannya tidak hanya diukur dari seberapa cepat 2G hilang. Ukuran yang lebih penting adalah apakah sekitar puluhan juta pengguna dapat berpindah tanpa kehilangan akses komunikasi yang selama ini mereka andalkan.
